Breaking News

Membandingkan Gaya Kepemimpinan Al Sharaa di Suriah dan Al Alimi di Yaman

Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa dan Presiden Yaman Rashad Al Alimi menjadi sorotan karena tekad mereka untuk menyatukan wilayah masing-masing di tengah tantangan internal yang kompleks.

Keduanya menunjukkan kesamaan dalam gaya kepemimpinan yang tegas namun pragmatis, menyeimbangkan otoritas negara dengan kebutuhan negosiasi politik lokal.

Ahmed Al Sharaa menghadapi tantangan berat karena keberadaan SDF yang menentang Damaskus. SDF menjadi kekuatan otonom di timur Suriah yang menolak integrasi penuh.

Selain SDF, pasukan Al Sharaa juga harus menghadapi tekanan dari milisi Druze Al Hajri dan komunitas Alawite yang menuntut pengakuan khusus dalam sistem pemerintahan Suriah.

Rashad Al Alimi di sisi lain memiliki Nations Shield sebagai instrumen keamanan utama PLC, yang berperan dalam menjaga stabilitas wilayah Yaman dari ancaman STC di selatan.

STC menjadi tantangan nyata bagi PLC karena mereka menolak otoritas pusat di selatan, mirip dengan peran SDF di Suriah yang menolak integrasi penuh ke Damaskus.

Kedua pemimpin ini menunjukkan strategi adaptif: Al Sharaa mencoba menggabungkan unsur militer dan politik lokal, sementara Al Alimi menekankan koordinasi antara Nations Shield dan pemerintah pusat.

Dalam Suriah, integrasi wilayah yang dikuasai SDF selalu diwarnai ketegangan. Hal ini menunjukkan bahwa model sentralisasi ala PLC tidak akan berhasil bila diterapkan secara langsung.

Al Sharaa belajar dari pengalaman ini, bahwa pendekatan keras terhadap SDF bisa memicu konflik berkepanjangan, sehingga solusi politik harus diutamakan selain pendekatan militer.

Di Yaman, Al Alimi menghadapi situasi serupa dengan STC. Nations Shield bertindak sebagai kekuatan sentral, tetapi tetap harus bernegosiasi dengan aktor lokal agar konsolidasi tidak memicu perlawanan bersenjata.

Gaya kepemimpinan kedua presiden terlihat dari keberanian mereka mengambil keputusan strategis yang bisa mengubah keseimbangan kekuatan, baik di Suriah maupun di Yaman.

Al Sharaa berupaya memanfaatkan loyalitas milisi Druze dan Alawite sambil menahan tekanan SDF untuk mempertahankan kontrol Damaskus dan wilayah sekitar.

Sementara itu, Al Alimi memanfaatkan keberadaan Nations Shield untuk memperkuat kehadiran PLC di wilayah selatan yang sebelumnya dikontrol STC.

Persamaan lain terlihat pada kemampuan mereka memprioritaskan wilayah inti negara, menjaga pusat kekuasaan sambil mencari jalan damai untuk integrasi wilayah yang menentang.

Kegigihan Al Sharaa di Suriah menunjukkan bahwa kepemimpinan sentral harus fleksibel, dengan strategi politik yang mampu mengakomodasi kelompok minoritas bersenjata.

Al Alimi belajar dari ini dengan menyesuaikan strategi PLC di Yaman, menyeimbangkan antara pendekatan militer dan diplomasi untuk merangkul wilayah yang dikuasai STC.

Perbandingan kedua presiden ini juga menunjukkan perbedaan konteks: Suriah menghadapi fragmentasi etnis dan sektarian, sementara Yaman menghadapi fragmentasi politik dan faksi bersenjata selatan.

Meski konteks berbeda, prinsip konsolidasi tetap sama: kombinasi kekuatan militer dan legitimasi politik lokal menjadi kunci untuk menyatukan wilayah yang terpecah.

Analisis menunjukkan bahwa pengalaman Suriah dapat menjadi pelajaran bagi Yaman. Sistem PLC mungkin tidak cocok diterapkan di wilayah yang memiliki aktor otonom kuat seperti SDF atau STC tanpa penyesuaian strategi.

Akhirnya, tekad kedua presiden ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di negara yang terpecah membutuhkan kesabaran, keberanian, dan kemampuan untuk mengelola konflik internal tanpa melemahkan otoritas pusat.

Tidak ada komentar