Cadangan Devisa Bank Sentral Libya Mencapai Rekor
Laporan Tahunan Biro Audit Libya 2024 mengungkap perkembangan signifikan dalam cadangan devisa dan utang negara.
Cadangan Bank Sentral Libya mencapai 409 miliar dinar pada 31 Desember 2024, setara dengan 83 miliar dolar AS.
Angka ini mencatat kenaikan 3 miliar dolar AS atau sekitar 4 persen dibandingkan tahun fiskal 2023.
Peningkatan cadangan ini sebagian besar disebabkan oleh kenaikan aset dalam mata uang asing dan emas.
Menurut laporan, aset untuk menutupi mata uang yang diterbitkan dan dibatasi naik 12 persen dibandingkan akhir 2023.
Peningkatan ini menandakan upaya Libya memperkuat stabilitas moneter dan daya saing mata uang nasional.
Namun laporan juga menunjukkan sisi lain dari keuangan negara, yakni total utang publik Libya yang tinggi.
Utang publik per 31 Desember 2024 tercatat sebesar 84 miliar dinar, sesuai akun Bank Sentral Libya.
Angka ini belum mencakup utang pemerintah di wilayah timur negara yang mencapai 186 miliar dinar.
Dengan demikian, total utang nasional Libya mencapai 270 miliar dinar, mengindikasikan tekanan fiskal yang cukup besar.
Biro Audit menekankan pentingnya manajemen utang yang hati-hati untuk menjaga kesehatan ekonomi Libya di tengah tantangan internal.
Selain itu, laporan menyoroti aset dan investasi Otoritas Investasi Libya (LIA) sebagai sumber penting kekayaan negara.
Aset LIA per akhir 2024 tercatat sebesar 72,832 miliar dolar AS, menunjukkan kapasitas finansial yang signifikan.
Sementara investasi LIA mencapai 39,479 miliar dolar AS, mencerminkan diversifikasi portofolio untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
LIA tetap menjadi instrumen utama pemerintah Libya dalam mengelola dana publik dan cadangan devisa strategis.
Pengelolaan yang transparan dari aset dan investasi ini dapat meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap Libya.
Meski demikian, besarnya utang nasional menjadi tantangan besar bagi stabilitas ekonomi dalam jangka menengah.
Biro Audit mengingatkan bahwa pertumbuhan cadangan harus diimbangi dengan langkah pengendalian utang dan efisiensi anggaran.
Keberhasilan Libya menambah cadangan 4 persen menunjukkan adanya kemampuan fiskal yang meningkat meski dihadapkan konflik politik internal.
Laporan 2024 menjadi indikator penting bagi pengambil kebijakan untuk menyeimbangkan antara kekayaan negara dan kewajiban fiskal yang menumpuk.
Secara keseluruhan, kondisi keuangan Libya menunjukkan campuran antara peluang dan risiko yang perlu dikelola dengan cermat oleh pemerintah.
Berdasarkan data Biro Audit Libya 2024, total utang nasional Libya mencapai 270 miliar dinar, yang setara dengan sekitar 55 miliar dolar AS jika dikonversi dengan kurs cadangan devisa. Jika dibandingkan dengan perkiraan Produk Domestik Bruto (GDP) Libya 2024 yang berkisar sekitar 80–90 miliar dolar AS, rasio utang terhadap GDP berada di kisaran 60–70 persen. Rasio ini relatif moderat dibandingkan standar global, di mana negara berkembang umumnya dianggap masih aman jika rasio utangnya berada di bawah 70–80 persen dari GDP.
Meski rasio utang ini masih dalam batas aman secara global, ada faktor risiko yang perlu diperhatikan. Utang timur Libya yang tinggi dan tekanan politik internal berpotensi menambah beban fiskal, sementara volatilitas harga minyak dapat memengaruhi pendapatan negara. Dengan manajemen fiskal yang hati-hati dan kontrol pengeluaran yang disiplin, Libya masih memiliki ruang untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik tanpa menimbulkan krisis utang. Namun, ketergantungan tinggi pada cadangan minyak tetap menjadi kerentanan utama bagi stabilitas jangka panjang.

Tidak ada komentar
Posting Komentar