Breaking News

Dipimpin Gubernur SDF, Pemukiman Arab Hasakah Masih Diblokade

Kota Hasakah di timur laut Suriah kembali menjadi sorotan akibat kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk. Warga Arab yang tinggal di kota tersebut menyuarakan keluhan mereka atas situasi pengepungan oleh milisi SDF Kurdi yang telah berlangsung lama dan berdampak pada hampir seluruh aspek kehidupan sehari-hari.

Sejak beberapa tahun terakhir, Hasakah mengalami krisis layanan dasar yang kronis. Air bersih, listrik, komunikasi, hingga akses jalan menjadi persoalan utama yang dirasakan langsung oleh masyarakat sipil, terutama di lingkungan-lingkungan padat penduduk.

Salah satu tuntutan paling mendesak warga adalah pengaktifan kembali Stasiun Proyek Sumur Allouk di pedesaan Ras al-Ain. Stasiun ini selama puluhan tahun dikenal sebagai satu-satunya sumber utama air minum bagi kota Hasakah dan sekitarnya. Pemerintah pusat yang dipimpin Presiden Ahmed Al Sharaa tidak bisa membantu warga yang terblokade karena kondisi lapangan yang masih dikuasai milisi SDF pasca perjanjian damai. Polisi yang dikirim Damaskus juga dibatasi pergerakannya hanya di kawasan kantor saja.

Sejak sekitar tujuh tahun terakhir, pasokan air dari Allouk terputus sepenuhnya. Akibatnya, ratusan ribu warga terpaksa bergantung pada air kiriman, sumur tidak layak, atau membeli air dengan harga tinggi yang memberatkan ekonomi keluarga.

Krisis air ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Penyakit kulit dan gangguan pencernaan dilaporkan meningkat, terutama di kalangan anak-anak dan lansia yang paling rentan terhadap kondisi sanitasi buruk.

Selain air, warga juga menuntut pemulihan jaringan komunikasi. Jaringan telepon seluler dan sambungan telepon rumah dilaporkan terputus selama sekitar satu tahun terakhir, membuat kota itu terisolasi secara informasi.

Terputusnya komunikasi menyulitkan warga untuk berhubungan dengan keluarga di luar kota, mengakses layanan darurat, hingga menjalankan aktivitas ekonomi dasar yang kini sangat bergantung pada konektivitas.

Pasokan listrik juga menjadi keluhan utama. Sejak setahun terakhir, banyak kawasan Hasakah hidup tanpa aliran listrik negara, memaksa warga bergantung pada generator pribadi yang mahal dan tidak terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Kondisi ini memperparah beban ekonomi rumah tangga. Harga bahan bakar untuk generator terus naik, sementara pendapatan warga justru menurun akibat lumpuhnya kegiatan usaha dan perdagangan.

Di sektor pelayanan publik, situasinya tidak kalah memprihatinkan. Banyak kantor pemerintahan, bank milik negara, sekolah, rumah sakit, dan pusat kesehatan dilaporkan berhenti beroperasi sejak perubahan kekuasaan di wilayah tersebut.

Akibatnya, akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan dasar menjadi sangat terbatas. Anak-anak terancam putus sekolah, sementara pasien dengan penyakit kronis kesulitan mendapatkan perawatan rutin.

Warga juga menyoroti tertutupnya jalan-jalan utama dan jalur penghubung antara kota dan pedesaan sekitar. Penutupan ini membuat distribusi barang terhambat dan harga kebutuhan pokok melonjak drastis.

Keterisolasian Hasakah dari kota-kota dan provinsi lain di Suriah memperdalam krisis kemanusiaan. Banyak warga merasa terkurung di wilayah sendiri tanpa kepastian masa depan.

Dalam berbagai pernyataan, warga Arab Hasakah menegaskan bahwa tuntutan mereka bersifat kemanusiaan dan tidak bermuatan politik. Mereka menekankan hak atas air, listrik, komunikasi, dan layanan publik sebagai kebutuhan dasar.

Tokoh-tokoh masyarakat setempat menyebut bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Mereka memperingatkan bahwa kelanjutan krisis dapat memicu gelombang migrasi baru dan ketegangan sosial.

Situasi Hasakah juga menarik perhatian pengamat regional yang menilai bahwa ketidakstabilan layanan dasar dapat memperburuk kerentanan keamanan di wilayah timur laut Suriah.

Di tengah kompleksitas konflik Suriah, warga Hasakah berharap ada langkah nyata untuk meredakan penderitaan mereka. Pemulihan infrastruktur dasar dipandang sebagai kunci untuk mengembalikan kehidupan normal.

Hingga kini, belum ada solusi menyeluruh yang mampu menjawab tuntutan warga. Kondisi di lapangan masih ditandai ketidakpastian dan ketergantungan pada bantuan terbatas.

Bagi masyarakat Hasakah, tuntutan tersebut bukan sekadar daftar permintaan, melainkan cerminan perjuangan sehari-hari untuk bertahan hidup di tengah krisis berkepanjangan.

Selama layanan dasar belum pulih, Hasakah akan terus menjadi simbol kota yang terjepit, menunggu perhatian dan tindakan nyata agar kehidupan warganya kembali berjalan sebagaimana mestinya.

Tidak ada komentar